JAYAPURA, WARTAOSIS.ID – SMP YPPK Teruna Mulia melaksanakan asesmen baseline untuk memetakan kemampuan literasi, numerasi, dan kecakapan digital murid pada Rabu (30/9/2026). Kegiatan yang dilaksanakan di lingkungan sekolah tersebut menjadi langkah awal untuk mengetahui kemampuan, kebutuhan, serta kesiapan murid dalam mengikuti proses pembelajaran.
Asesmen baseline tidak sekadar menguji kemampuan murid melalui soal. Kegiatan juga dilakukan melalui berbagai aktivitas pembelajaran dan observasi untuk melihat kemampuan murid dalam memahami informasi, mengolah data, menggunakan konsep numerasi, serta memanfaatkan teknologi digital dalam kegiatan belajar.
Advertisement
Menurut Iess Lmt Piran, S.Pd., Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMP YPPK Teruna Mulia, pelaksanaan asesmen baseline dilakukan setelah sekolah menganalisis hasil Rapor Pendidikan tahun 2025.
“Kegiatan ini dilakukan setelah menganalisis Rapor Pendidikan tahun 2025, yang menunjukkan adanya penurunan skor pada kompetensi membaca teks informasi dan kemampuan numerasi, khususnya pada domain bilangan, aljabar, dan geometri,” ungkap Iess.
Ia menjelaskan, pemetaan tersebut menjadi pedoman bagi sekolah dan guru dalam melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi. Dengan pemetaan tersebut, guru dapat memberikan intervensi sesuai dengan tingkat kemampuan masing-masing murid.
“Pemetaan ini dilakukan sebagai pedoman untuk melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi supaya dapat dilakukan intervensi khusus pada murid yang perlu pendampingan, cakap, dan mahir sehingga kebutuhan belajar murid dapat terpenuhi,” jelasnya.
Pada aspek literasi, kemampuan murid tidak hanya dilihat dari aktivitas membaca teks. Murid juga diarahkan untuk menemukan informasi penting, memahami informasi tersurat maupun tersirat, menentukan ide pokok, hingga menarik kesimpulan.
Informasi yang digunakan dalam pemetaan juga disajikan dalam berbagai bentuk, seperti tabel, diagram, dan grafik. Hal ini dilakukan untuk melihat kemampuan murid dalam memahami dan menganalisis informasi dari berbagai sumber.
Hasil pemetaan tersebut nantinya dapat membantu guru mengetahui murid yang membutuhkan pendampingan lebih lanjut sekaligus memberikan pengayaan bagi murid yang telah memiliki kemampuan literasi lebih baik.
Kemampuan numerasi menjadi bagian lain yang dipetakan dalam asesmen baseline. Murid diajak menggunakan konsep bilangan, aljabar, dan geometri dalam situasi yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.
Murid juga diberikan aktivitas untuk membaca, membandingkan, dan menginterpretasikan data yang disajikan dalam tabel, diagram, maupun grafik, kemudian menarik kesimpulan berdasarkan informasi tersebut.
Dengan demikian, numerasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menghitung, tetapi juga kemampuan menggunakan data dan angka untuk memahami persoalan serta mengambil keputusan.
Selain literasi dan numerasi, kemampuan menggunakan teknologi digital juga menjadi perhatian dalam asesmen baseline. Pemetaan dilakukan untuk mengetahui kesiapan murid dalam memanfaatkan perangkat dan teknologi sebagai bagian dari proses pembelajaran.
Kemampuan yang dipetakan meliputi akses terhadap informasi, penggunaan aplikasi pembelajaran, pengolahan dan penyajian informasi sederhana, serta pemanfaatan Interactive Flat Panel (IFP) dalam kegiatan belajar.
Kemampuan digital juga tidak hanya dilihat dari keterampilan menggunakan perangkat. Sikap mandiri, aktif, mampu berkolaborasi, dan bertanggung jawab dalam menggunakan teknologi turut menjadi bagian yang diperhatikan.
Hasil asesmen baseline tidak berhenti sebagai data. Sekolah menyiapkan tindak lanjut melalui pembelajaran yang dirancang berdasarkan hasil pemetaan kemampuan murid.
Petrus Salestinus Koli, S.Fil., Kepala SMP YPPK Teruna Mulia, mengatakan hasil pemetaan akan ditindaklanjuti oleh guru melalui penyusunan modul ajar yang mengintegrasikan literasi, numerasi, dan pemanfaatan papan digital atau IFP dalam pembelajaran.
“Hasil dari pemetaan ini ditindaklanjuti oleh guru dengan membuat modul ajar yang di dalamnya terintegrasi literasi, numerasi, dan pemanfaatan papan digital (IFP),” ujar Petrus.
Menurutnya, implementasi pembelajaran dilakukan oleh masing-masing guru mata pelajaran, meliputi Matematika, Bahasa Indonesia, IPA, PJOK, Pendidikan Pancasila, Pendidikan Agama, dan Bahasa Inggris.
Intervensi dilakukan selama tiga hari untuk numerasi dan dua hari untuk literasi. Selama proses tersebut, guru juga melakukan asesmen untuk melihat dampak pembelajaran terhadap peningkatan kemampuan literasi dan numerasi murid, khususnya kompetensi yang menjadi perhatian dalam Rapor Pendidikan.
“Guru juga membuat asesmen untuk memastikan apakah pembelajaran tersebut berdampak terhadap peningkatan kemampuan literasi dan numerasi, khususnya yang diamanatkan dalam Rapor Pendidikan,” jelasnya.
Petrus menambahkan, murid yang belum menunjukkan perkembangan sesuai yang diharapkan akan kembali mendapatkan pendampingan melalui strategi pembelajaran yang berbeda.
“Siswa yang belum menunjukkan peningkatan akan didorong kembali dengan strategi pembelajaran yang berbeda,” ujarnya.
Hasil asesmen baseline menjadi data awal bagi sekolah dan guru dalam menentukan strategi pembelajaran berikutnya. Murid yang membutuhkan pendampingan dapat memperoleh dukungan sesuai kebutuhannya, sementara murid yang telah menguasai kompetensi tertentu dapat diberikan kegiatan pengayaan.
Data tersebut juga akan menjadi pembanding dengan hasil asesmen berikutnya. Dengan membandingkan data awal dan hasil asesmen selanjutnya, sekolah dapat melihat perkembangan kemampuan murid sekaligus menentukan aspek yang masih memerlukan perbaikan.
Bagi SMP YPPK Teruna Mulia, asesmen baseline bukan sekadar kegiatan untuk memperoleh nilai. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membangun budaya belajar berbasis data, sehingga proses pembelajaran dapat dirancang berdasarkan kondisi dan kebutuhan nyata murid.
Hasil pemetaan akan menjadi bagian dari siklus peningkatan mutu sekolah, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, monitoring, evaluasi, refleksi, hingga tindak lanjut.
Melalui proses tersebut, SMP YPPK Teruna Mulia berupaya memastikan bahwa setiap data yang diperoleh dari proses pembelajaran tidak berhenti sebagai angka, tetapi digunakan untuk menentukan langkah nyata dalam meningkatkan kualitas pembelajaran dan mendukung perkembangan murid. (Abi)