“Terima kasih, Tuhan.”
Sepenggal kalimat sederhana itu meresap pelan di dalam hati Viona Aprilia Oematan. Tidak ada sorak-sorai yang berlebihan, hanya rasa haru yang menggenang ketika ia dan timnya dinobatkan sebagai Juara Harapan II pada ajang Creative Hackathon MPK–Edefi 2026, sebuah kompetisi nasional bergengsi garapan Majelis Pendidikan Kristen (MPK) di Indonesia dan Edefi.
Advertisement
Bagi banyak orang, penghargaan mungkin dipandang sebagai akhir yang manis dari sebuah perlombaan. Namun bagi Viona, piagam yang kini berada di pelukannya adalah saksi bisu dari sebuah pergulatan batin; tentang menaklukkan keraguan, meraba keberanian, dan berserah pada rencana Tuhan yang tak pernah keliru.
Semuanya bergulir begitu cepat pada 12 Juni 2026. Di saat aroma libur semester sudah tercium dan teman-temannya bersiap melepas penat, sebuah tawaran mendadak menghampiri siswi kelas XII SMAK Kasih Karunia di Kota Kupang ini. Ia diminta mewakili sekolah bermain dalam film pendek untuk kompetisi nasional tersebut.
Tidak ada persiapan berbulan-bulan. Tidak ada pemanasan. Di balik senyum yang ia tunjukkan saat menerima tawaran itu.
“Awalnya saya tidak berekspektasi akan ikut. Tapi waktu ditawari bermain film, saya berpikir sayang kalau kesempatan ini dilewatkan. Saya berharap bisa mendapat pengalaman baru,” tutur Viona.
Keputusan itu memang terdengar sederhana. Namun, di balik senyumnya, ada pergulatan batin yang tidak diketahui banyak orang.
“Saya sempat ragu karena persiapannya sangat singkat. Saya juga dipilih secara mendadak, sementara sekolah sudah mau libur semester. Yang membuat saya semakin ragu, lomba ini tingkat nasional dan itu pertama kalinya saya ikut lomba seperti ini,” kenangnya.
Membayangkan harus bersaing dengan sekolah-sekolah dari seluruh penjuru negeri membuat nyalinya menyusut. Rasa takut gagal dan takut mengecewakan berbisik keras di telinganya, menyuruhnya mundur sebelum melangkah.

Beruntung, ia tidak dibiarkan bertarung sendirian melawan keraguannya. Jhosua Ballo, teman sekelas sekaligus sutradara dan editor proyek ini, menjadi orang pertama yang mengulurkan tangan. Mengingat Viona pernah berlaga di lomba film tingkat kabupaten, Jhosua menaruh kepercayaan penuh padanya. Perlahan, rentetan kalimat penyemangat dari Jhosua dan para guru menyadarkan Viona: ini bukan lagi semata soal membawa pulang piala, melainkan tentang seberapa berani ia menantang dirinya sendiri.
“Kadang kita sebagai manusia ragu dengan diri sendiri, padahal kita punya Tuhan yang Mahakuasa yang bisa mengubah keraguan menjadi keberhasilan lewat rencana-Nya. Jadi menurut saya, ketika melakukan apa pun, jangan hanya mengandalkan diri sendiri, tetapi serahkan semuanya kepada Tuhan. Dia akan memberikan yang terbaik menurut rencana-Nya,” ungkap Viona, merefleksikan titik baliknya. Ia pun melangkah maju.
Menerima tantangan adalah satu hal, tetapi menjalaninya adalah ujian yang sama sekali berbeda. Waktu terasa memburu. Mereka hanya memiliki waktu dua hingga tiga hari untuk merampungkan seluruh produksi sebelum tenggat waktu 20 Juni 2026.
Ujian terberat Viona bukan sekadar menghafal naskah, melainkan menghidupkan karakter yang menuntutnya melakukan sesuatu yang sama sekali asing: membuat gula lempeng, olahan tradisional dari nira lontar khas Nusa Tenggara Timur.
Di depan kamera, Viona tidak boleh sekadar berpura-pura. Ia harus benar-benar menjiwai prosesnya mulai dari memasak nira yang mendidih, melipat daun lontar menjadi cetakan yang presisi, hingga menjaga ritme nyala api agar gula tak berakhir gosong. Ketelitian, kecepatan, dan kesabaran diuji di depan panasnya tungku. Semuanya harus dipelajari dari nol dalam hitungan jam.
Pagi buta, ketika teman-temannya masih terlelap menikmati liburan, Viona sudah harus bergegas ke lokasi syuting. Fisik dan mentalnya diperas habis-habisan.
“Pernah terlintas ingin menyerah, karena capek sekali belajar membuat gula,” ucapnya sambil tersenyum simpul, mengenang masa-masa melelahkan itu.
Namun, di setiap titik terendahnya, selalu ada penopang yang menahannya agar tidak jatuh. Ada Pak Helmy Dadang Gunawan yang tak kenal lelah mendampingi di lokasi, memberikan masukan dengan sabar. Ada Pak Yandir Elia yang membukakan jalan pendaftaran dan memantik semangat mereka. Ada pula teman-teman sekelas yang tiada henti mengirimkan pesan penguat, menjadi pelipur lara di sela-sela waktu istirahat syuting.

Dan di atas segalanya, ada doa dan pelukan tanpa kata dari keluarganya. Sang ibu yang langsung memberikan restu tanpa ragu, serta kehadiran sosok ayah yang menjadi jangkar emosional terkuatnya. Di tengah dinginnya pagi dan lelahnya hari, sang ayah selalu setia mengantar-jemputnya, tanpa keluhan, tanpa banyak menuntut.
“Kadang Bapa tidak langsung bilang kalau Bapa dukung, tapi lewat apa yang Bapa buat, Vio tahu kalau Bapa selalu dukung, walaupun Bapa tidak bilang lewat kata-kata.”
Di balik kalimat lirih Viona itu, tersimpan makna yang begitu dalam. Bentuk cinta yang tak selalu diucapkan, namun menjelma menjadi kekuatan paling nyata yang memampukannya bertahan hingga pengambilan gambar terakhir.
Setelah karya dikirimkan, hiruk-pikuk syuting tergantikan oleh heningnya penantian. Viona kembali ke kehidupan remajanya, menekan dalam-dalam ekspektasinya. Baginya, bisa bertahan melewati batas kemampuannya sendiri sudah merupakan kemenangan mutlak.
Hingga tibalah malam 30 Juni 2026. Dari balik layar virtual, suara pengumuman dari Jakarta itu memecah keheningan. Nama timnya bergema sebagai Juara Harapan II. Air matanya tak terbendung. Tuhan telah menjawab keraguannya dengan cara yang paling manis. Ketika piagam penghargaan akhirnya mendarat di tangannya pada 16 Juli 2026, Viona tahu bahwa ia sedang memegang bukti dari sebuah keajaiban yang lahir dari kerja keras.
Menariknya, orang pertama yang dikabarinya bukanlah keluarganya, melainkan teman-teman sekelasnya. Viona menyadari, dukungan tak kasat mata dari teman-temannya di grup percakapan adalah “napas buatan” yang membuatnya mampu melewati hari-hari syuting yang berat. Ia sadar betul, prestasinya bukanlah pencapaian tunggal, melainkan mahakarya dari banyak tangan yang saling menopang.
Kini, di usianya yang menginjak 17 tahun, pandangan Viona tentang kehidupan menjadi lebih luas dan dalam. Pengalaman ini membentuknya menjadi pribadi yang lebih berani.
“Tidak semua kesempatan datang dua kali. Jangan minder dan jangan takut mencoba. Lomba bukan hanya soal menang atau kalah, tetapi tentang pengalaman berharga yang bisa kita dapatkan,” pesannya untuk generasi muda yang masih sering terpenjara oleh ketidakpercayaan diri.
Ke depan, Viona siap melangkah menuju impian barunya di perguruan tinggi. Ia menyimpan asa untuk menjadi seorang guru Sosiologi bukan sekadar pengajar teori, melainkan pendidik yang kelak akan menggandeng tangan murid-muridnya, mengikis keraguan mereka, dan membentuk karakter mereka, persis seperti apa yang dilakukan guru-gurunya terhadap dirinya.
Kisah Viona Aprilia Oematan meninggalkan satu jejak pesan yang mendalam: Kemenangan sejati sering kali tidak diawali dengan rasa percaya diri yang meluap-luap, melainkan dari keberanian untuk berbisik “ya” pada sebuah kesempatan kecil, di tengah besarnya rasa ragu.
Sebab di balik ketakutan manusia yang terbatas, selalu ada rencana Tuhan yang tak terbatas. (Aby Tine)