Jayapura – Pagi itu, Jumat (17/7/2026), suasana di Gereja Katolik Paroki Kristus Juruselamat Kotaraja, Jayapura, terasa lebih syahdu dari biasanya. Ratusan pasang mata tertuju pada altar, menyatukan hati dan menundukkan kepala dalam lantunan doa. Mereka adalah keluarga besar SMA YPPK Taruna Dharma, mulai dari kepala sekolah, dewan guru, staf, hingga para siswa.
Mereka datang bukan sekadar untuk memenuhi kewajiban, melainkan membawa satu kerendahan hati: menyerahkan lembaran baru Tahun Ajaran 2026-2027 sepenuhnya ke dalam campur tangan Tuhan.
Advertisement
Merawat Tradisi, Menyuburkan Rohani
Bagi SMA YPPK Taruna Dharma, Misa Pembukaan Semester adalah lebih dari sekadar rutinitas; ia adalah napas spiritual dan warisan luhur yang terus dijaga nyalanya.
Kepala Sekolah, Oktavianus P. Rantetau, S.T., memandang tradisi ini dengan penuh kebanggaan yang mengharukan. “Program ini sudah ada jauh sebelum saya menjadi kepala sekolah. Sampai sekarang tetap kami jalankan karena ini adalah fondasi dan jantung dari pembinaan karakter anak-anak kami,” ungkapnya.
Langkah iman ini tidak berhenti di awal semester. Setiap bulan, pada hari Jumat pertama, sekolah ini rutin melangsungkan misa. Bagi Oktavianus, ini adalah identitas tak ternilai dari sekolah-sekolah di bawah naungan Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik (YPPK) yang harus terus dipeluk erat.
Sebuah Potret Kepercayaan dan Persaudaraan
Namun, ada sebuah realitas yang sangat menyentuh hati di balik dinding-dinding kelas sekolah Katolik ini. Dari sekitar 500 siswa yang menuntut ilmu di sana, termasuk 178 wajah baru yang penuh semangat tahun ini—ternyata mereka didominasi oleh penganut denominasi gereja lain.
“Siswa Katolik di sekolah kami hanya sekitar 10 persen,” tutur Oktavianus dengan senyum penuh syukur.
Angka ini bukanlah sebuah ironi, melainkan sebuah bukti indah tentang besarnya kepercayaan masyarakat. Fakta bahwa mayoritas orang tua dari berbagai latar belakang keagamaan dengan tulus menitipkan masa depan anak-anak mereka di SMA YPPK Taruna Dharma menunjukkan betapa kualitas pendidikan, kedisiplinan, dan cinta kasih yang diajarkan di sekolah ini mampu menembus batas-batas sekat perbedaan. Sekolah ini telah menjadi rumah hangat bagi keberagaman, tanpa pernah kehilangan akar identitasnya.
Doa untuk Hari Esok yang Lebih Baik
Di hadapan altar suci, Oktavianus merapalkan harapan yang tulus. Ia berdoa agar perayaan Ekaristi ini menjadi oase rohani yang menyegarkan jiwa setiap guru yang akan mendidik, dan setiap murid yang akan belajar.
Di relung hatinya, tersemat pula sebuah kerinduan agar ke depannya semakin banyak keluarga Katolik yang menyadari indahnya “pulang ke rumah” dan menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah Katolik. Tentu saja, hal ini diharapkan terjadi tanpa sedikit pun mengurangi pelukan persaudaraan sekolah terhadap siswa-siswi dari latar belakang agama lain.
Misa berlangsung dengan sangat khidmat, meninggalkan kedamaian di hati setiap yang hadir. Saat mereka melangkahkan kaki keluar dari pintu gereja, mereka tidak hanya bersiap menghadapi setumpuk buku pelajaran. Mereka siap memulai perjalanan tahun ajaran baru dengan iman yang teguh, harapan yang menyala, dan komitmen untuk membangun karakter luhur berlandaskan kasih Kristiani. (Paulus)