Warta OSIS – Literasi bukan sekadar kebiasaan membaca, melainkan proses membangun cara berpikir, memahami, dan memaknai kehidupan. Berlandaskan semangat Non Scholae Sed Vitae Discimus yang berarti “Kita belajar bukan untuk sekolah, tetapi untuk hidup,” SMP YPPK Teruna Mulia terus memperkuat budaya belajar melalui program literasi dan numerasi yang dilaksanakan secara rutin setiap hari Jumat pada minggu pertama dan kedua setiap bulan.
Program literasi dan numerasi yang dikembangkan SMP YPPK Teruna Mulia lahir dari komitmen sekolah untuk menghadirkan pembelajaran yang berpihak kepada peserta didik. Melalui pemetaan kemampuan literasi dan numerasi, guru dapat mengenali kebutuhan belajar setiap siswa sehingga strategi pembelajaran dapat disusun secara lebih tepat sasaran.
Advertisement
Program ini bukan sekadar aktivitas membaca ataupun mengerjakan soal, melainkan menjadi bagian dari strategi sekolah dalam mengenali kemampuan awal setiap peserta didik. Dengan pemetaan tersebut, sekolah ingin memastikan bahwa setiap siswa memperoleh pelayanan pembelajaran yang sesuai dengan tingkat kemampuan dan kebutuhan belajarnya.
Kegiatan yang pada pekan ini dilaksanakan pada Jumat (24/7) berlangsung secara serentak di seluruh lingkungan sekolah. Selain di ruang-ruang kelas, sebagian siswa juga mengikuti kegiatan di perpustakaan sekolah. Seluruh proses didampingi oleh wali kelas dan guru pendamping yang mengamati serta membimbing peserta didik selama kegiatan berlangsung.

Program tersebut merupakan implementasi nyata dari visi SMP YPPK Teruna Mulia, yaitu mewujudkan murid yang unggul dalam dimensi profil lulusan melalui pembelajaran mendalam (Deep Learning) yang berlandaskan nilai-nilai Katolisitas.
Salah satu indikator utama dalam visi sekolah adalah penguatan kompetensi literasi dan numerasi sebagai fondasi pembelajaran yang berkualitas.
Komitmen tersebut juga tercermin dalam misi sekolah yang menekankan penyelenggaraan pembelajaran mendalam (Deep Learning), menciptakan pengalaman belajar yang berkesadaran (mindful), bermakna (meaningful), dan menyenangkan (joyful), serta meningkatkan kompetensi literasi dan numerasi peserta didik melalui berbagai program intrakurikuler, kokurikuler, maupun ekstrakurikuler.
Dalam pelaksanaannya, peserta didik tidak hanya diminta membaca atau menjawab pertanyaan. Guru melakukan proses pemetaan kemampuan untuk mengetahui sejauh mana siswa mampu membaca dengan baik, memahami isi bacaan, menginterpretasikan informasi, menganalisis persoalan, menarik kesimpulan, hingga menyelesaikan soal-soal numerasi sesuai tingkat kemampuannya.
Gagasan tersebut sejalan dengan arahan Kepala SMP YPPK Teruna Mulia yang selama ini secara konsisten menekankan pentingnya mengenali kemampuan awal setiap peserta didik sebagai dasar dalam menerapkan pembelajaran berdiferensiasi.
Dengan demikian, setiap siswa memperoleh layanan belajar sesuai tingkat kemampuannya serta didampingi secara bertahap agar terus berkembang sesuai potensinya.

Hasil pemetaan tersebut nantinya menjadi dasar bagi guru dalam menyusun strategi pembelajaran yang lebih efektif melalui pendekatan pembelajaran berdiferensiasi, yaitu pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan, kesiapan, dan kemampuan masing-masing peserta didik.
Melalui pendekatan ini, setiap siswa memiliki kesempatan untuk berkembang secara optimal tanpa harus diperlakukan dengan strategi pembelajaran yang sama.
Pendekatan tersebut mencerminkan paradigma pendidikan yang menempatkan peserta didik sebagai pusat pembelajaran. Sekolah tidak lagi memandang seluruh siswa memiliki kemampuan yang sama, melainkan memahami bahwa setiap anak memiliki kecepatan belajar, potensi, serta kebutuhan yang berbeda.
Oleh karena itu, pemetaan kemampuan menjadi langkah awal yang penting agar guru dapat merancang strategi pembelajaran yang lebih tepat sasaran, adaptif, dan berorientasi pada perkembangan setiap peserta didik.
Melalui program yang dilaksanakan secara berkelanjutan, SMP YPPK Teruna Mulia berharap budaya literasi dan numerasi tidak hanya menjadi rutinitas setiap hari Jumat, tetapi tumbuh menjadi karakter belajar peserta didik dalam kehidupan sehari-hari.
Sejalan dengan mottonya, “Kita belajar bukan untuk sekolah, tetapi untuk hidup,” sekolah terus berkomitmen menghadirkan pembelajaran yang bermakna demi membentuk generasi yang unggul, berkarakter, memiliki kemampuan berpikir kritis, bernalar, memecahkan masalah, serta siap menghadapi tantangan kehidupan di masa depan. (Aby Tine)