WartaOSIS – Perubahan dalam dunia pendidikan tidak selalu diawali oleh perubahan kurikulum ataupun hadirnya teknologi baru di ruang kelas. Perubahan yang sesungguhnya justru dimulai dari guru bagaimana mereka memahami karakteristik peserta didik, mengambil keputusan berdasarkan data, dan merancang pembelajaran yang mampu menjawab kebutuhan belajar setiap anak.
Berangkat dari semangat tersebut, SMP YPPK Teruna Mulia menyelenggarakan In House Training (IHT) selama dua hari, Kamis (30/7) hingga Jumat (31/7), dengan mengusung tema “Transformasi Pembelajaran Menuju Pemahaman Bermakna dan Berdampak.”
Advertisement
Kegiatan yang diikuti seluruh tenaga pendidik ini menjadi bagian dari komitmen sekolah dalam membangun budaya belajar yang lebih reflektif, kolaboratif, dan berbasis data, sehingga pembelajaran yang dilaksanakan di kelas benar-benar memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi peserta didik.
Selama dua hari pelaksanaan, para guru memperoleh penguatan dari berbagai narasumber, yaitu Direktur Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik (YPPK), Kepala SMP YPPK Teruna Mulia, Pengawas Sekolah, serta Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum.

Rangkaian materi dalam IHT disusun secara berkesinambungan. Hari pertama diawali dengan penyampaian Kebijakan Yayasan oleh Direktur YPPK sebagai arah pengembangan mutu pendidikan di lingkungan sekolah.
Selanjutnya, Kepala SMP YPPK Teruna Mulia memaparkan materi mengenai Siklus Pembelajaran Berbasis Data, yang menekankan pentingnya menjadikan hasil asesmen sebagai dasar dalam mengenali kemampuan awal peserta didik sebelum guru menyusun strategi pembelajaran.
Materi kemudian diperkuat oleh Pengawas Sekolah melalui pembahasan mengenai Sekolah Model, yang mendorong terciptanya budaya peningkatan mutu sekolah secara berkelanjutan melalui kolaborasi dan refleksi.
Memasuki hari kedua, pelatihan berlanjut bersama Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum yang membahas Budaya Belajar dan Capaian Belajar, Siklus Inkuiri Kolaboratif, Pemetaan Materi Esensial, serta Program Kokurikuler sebagai bagian dari implementasi pembelajaran di sekolah.
Keseluruhan materi tersebut membentuk satu benang merah yang sama, yakni bagaimana guru mampu merancang pembelajaran yang berpihak kepada peserta didik melalui proses yang terencana, sistematis, dan berbasis data.

Salah satu penekanan utama dalam IHT ini disampaikan oleh Kepala SMP YPPK Teruna Mulia melalui materi Siklus Pembelajaran Berbasis Data.
Beliau menekankan bahwa proses pembelajaran yang berkualitas harus diawali dengan mengenali level kemampuan awal setiap peserta didik. Untuk itu, guru perlu melakukan asesmen diagnostik guna memperoleh gambaran mengenai kemampuan literasi, numerasi, serta penguasaan materi yang dimiliki siswa sebelum pembelajaran dimulai.
Namun, proses tersebut tidak berhenti pada pengumpulan data semata. Hasil asesmen perlu dianalisis untuk memetakan kemampuan peserta didik sehingga guru dapat menyusun strategi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan setiap siswa.
Setelah proses pembelajaran berlangsung, guru kembali melakukan asesmen untuk melihat perkembangan hasil belajar peserta didik. Data tersebut kemudian menjadi dasar dalam menyusun program remedial, pengayaan, serta Rencana Tindak Lanjut (RTL) sehingga setiap keputusan pembelajaran benar-benar didasarkan pada perkembangan nyata peserta didik.
Beliau juga menekankan bahwa instrumen asesmen perlu disusun secara bertingkat agar mampu memetakan level kemampuan siswa secara lebih akurat.
Berbeda dengan pelatihan yang hanya berakhir pada penyampaian materi, IHT di SMP YPPK Teruna Mulia menuntut setiap guru menghasilkan perangkat pembelajaran yang siap diterapkan di kelas.
Produk tersebut meliputi instrumen asesmen diagnostik, pemetaan kemampuan peserta didik, pemetaan level kemampuan siswa (Perlu Bimbingan, Dasar, Cakap, dan Mahir), rancangan pembelajaran berdiferensiasi, asesmen formatif, asesmen sumatif beserta kisi-kisi, hingga program remedial, pengayaan, dan rencana tindak lanjut.
Melalui perangkat tersebut, guru diharapkan mampu mengambil setiap keputusan pembelajaran berdasarkan data yang diperoleh dari peserta didik, bukan sekadar berdasarkan asumsi.

Selain menerima materi, para peserta juga terlibat aktif dalam diskusi dan praktik penyusunan perangkat pembelajaran.
Guru saling bertukar gagasan, menganalisis hasil asesmen, memetakan kemampuan peserta didik, serta menyempurnakan rancangan pembelajaran yang akan diterapkan pada tahun ajaran baru ini.
Suasana kolaboratif tersebut mencerminkan semangat Siklus Inkuiri Kolaboratif yang mendorong guru untuk terus belajar, merefleksikan praktik pembelajaran, dan saling menguatkan dalam meningkatkan kualitas layanan pendidikan.
Melalui In House Training ini, SMP YPPK Teruna Mulia menunjukkan bahwa transformasi pembelajaran tidak berhenti pada pelaksanaan sebuah pelatihan. Seluruh materi, diskusi, dan produk yang dihasilkan diarahkan untuk membangun budaya pembelajaran yang lebih terukur, reflektif, dan berpusat pada peserta didik.
Komitmen tersebut juga mulai diwujudkan melalui berbagai program sekolah, salah satunya pemetaan kemampuan literasi dan numerasi yang sebelumnya telah dilaksanakan sebagai dasar penyusunan pembelajaran berdiferensiasi.
Dengan mengenali kondisi awal peserta didik, menganalisis hasil belajar secara berkelanjutan, dan menyusun tindak lanjut berdasarkan data, sekolah berharap setiap peserta didik memperoleh layanan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dan potensinya.
Melalui langkah tersebut, tema “Transformasi Pembelajaran Menuju Pemahaman Bermakna dan Berdampak” tidak hanya menjadi tema In House Training, tetapi menjadi komitmen nyata SMP YPPK Teruna Mulia dalam menghadirkan pendidikan yang benar-benar berpihak kepada setiap peserta didik. (Aby Tine)